Perkembangan Teknologi VR Tidak Memenuhi Ekspektasi? Tidak Dalam Dunia Video

  12 Jul 2017

Beberapa tahun lalu saat pertama kali diperkenalkannya teknologi Virtual Reality (VR) banyak pihak berekspektasi kedepannya teknologi ini dapat digunakan di berbagai macam bidang. Sayangnya sampai saat ini Virtual Reality belum memenuhi atau terbilang mengecewakan dalam berbagai bidang. Dimulai dari lambatnya penjualan headset Virtual Reality yang paling mumpuni. Banyaknya perusahaan yang tengah berkecimpung dalam dunia Virtual Reality namun hanya berkecimpung dan berkecimpung saja. Bahkan Mark
Zuckerberg, chief executive Facebook, yang sangat mendukung teknologi Virtual Reality dan
membeli Oculus VR lebih dari $2 miliar beberapa tahun yang lalu, mengakui pada bulan Januari bahwa mengubah teknologi VR menjadi platform baru komputasi lebih susah
daripada yang dia harapkan.
 
"Hal-hal ini lebih rumit daripada yang telah dibayangkan sebelumnya," kata Zuckerberg saat
itu. "Jika pun ada, kita mungkin harus menginvestasikan lebih banyak uang untuk mencapai
tujuan yang kita inginkan."
 
Namun dalam bidang Video Games, Virtual Reality sangat berkembang. Menurut sebuah perusahaan penelitian IDC, pendapatan untuk pasar Augmented Reality dan Virtual Reality di seluruh dunia diperkirakan akan tumbuh dari $5,2 miliar pada tahun 2016 menjadi $162 miliar atau lebih pada tahun 2020, yang sebagian besar didorong oleh perangkat konsol game,
headset, dan mobile yang menggunakan Virtual Reality.
 
Hype yang tinggi untuk Game Virtual Reality tahun ini dapat dilihat pada acara Electronic Entertainment Expo atau E3, yaitu sebuah acara pameran tahunan perusahaan industri video
game yang untuk tahun ini diselengarakan di Los Angeles pertengahan Juni lalu. Penerbit game seperti Bethesda dan Sony mengumumkan bahwa beberapa video game populer seperti Elder Scrolls V: Skyrim, Fallout, dan Doom akan hadir dengan teknologi VR.
 
Daya tarik VR di dunia game sudah lama jelas. Pete Hines, wakil presiden public relation dan pemasaran di Bethesda Softworks, yang membuat franchise Elder Scrolls and Fallout, mengatakan game first-person shooter dan permainan open-world RPG paling sesuai dengan teknologi VR, karena game tersebut membuat para pemain menjadi bagian dari game.
 
Kini para developer mencoba teknologi dan cara baru menerapkan VR, seperti kecerdasan buatan, pengenalan suara dan "co-presence", yang pada dasarnya merupakan komponen pengaplikasian fitur multi-pemain dalam VR yang memungkinkan dua atau lebih pemain bermain bersama, kata Richard Marks, kepala Sony’s Playstation Magic Lab.
 
Salah satu contoh game milik perusahaan Sony tersebut adalah Starblood Arena, yang menggabungkan game multiplayer tradisional dengan teknologi VR. Permainan ini memungkinkan pemain berhadapan dengan orang lain di arena secara online dalam berbagai mode, mulai dari free-for-all death match hingga team-based match, di mana pemain dapat berkerjasama untuk mempertahankan objective tertentu.
 
VR dalam bidang game masih menghadapi berbagai macam permasalahan, contohnya seperti rasa pusing dan mual yang dirasakan beberapa orang saat pertama kali menggunakan VR dan
reaksi spontan tubuh lainnya yang tidak diharapkan saat penggunaan VR

 

Selain itu, para game developer lain mengatakan masih kurang banyaknya perminatan game VR dari konsumen yang memungkinkan sebuah studio game berfokus pada pengembangan teknologi VR untuk game.
 
“Apa yang kita butuhkan agar terjadi adalah untuk tetap berjalan pada visi awal, para investor
terus memberikan bantuan dana hingga keadaan ekonomi cukup menopang, dan para
platform game untuk terus mengembangkan perangkat untuk menarik lebih banyak
konsumen” kata Ray Davis, Chief executive dan pendiri Drifter Entertainment, sebuah start
up Seattle yang mengerjakan game shooter sci-fi multiplayer virtual reality bernama
Gunheart. "Yang kita butuhkan saat ini adalah kesabaran."
 

 

 

 




Afiliasi Lembaga

Profil HMIF

Lembaga FSM

Download Corner